Shadow

Toleransi Kebablasan



Oleh ; Rini Heliyani, S. Pd (Penggiat Literasi Aceh)

Rencana pembangunan terowongan antara Mesjid Istiqlal Jakarta dengan Gereja Katedral disambut baik oleh kedua agama,yaitu Islam dan Kristen. Diharapkan pembangunan terowongan yang menghubungkan kedua tempat ibadah tersebut menjadi ikon toleransi beragama dan kerukunan beragama di Indonesia. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Kepala Humas Mesjid Istiqla, Abu Hurairah, mengatakan “Terowongan itu nanti bisa dijadikan ikon toleransi agama di Indonesia, kata Abu (Republika.co.id, 7/2/20).


Rencana pembangunan terowongan yang dinamakan terowongan silaturahmi juga disambut baik oleh Presiden Jokowi dan disetujui pembangunannya seiring dengan renovasi mesjid Istiqlal yang sudah mulai dilakukan sejak Mei 2019. Jokowi mengatakan terowongan tersebut dibangun bersama renovasi mesjid Istiqlal. “Tadi ada usulan dibuat terowongan dari Mesjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui semua, sehingga ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi. Terowongan bawah tanah. Sehingga tidak menyebrang, tambah Jokowi (Tempo.CO, 7/2/20).


Dengan adanya terowongan ini diharapkan akan terciptanya toleransi beragama di Indonesia. Keberadaan kedua tempat ibadah yang saling berdekatan. Hal inipun seharusnya sudah menjadi ikon toleransi beragama di Indonesia. Toleransi semacam apa lagi yang diinginkan di Indonesia.


Terkadang toleransi menjadi sebuah senjata untuk menyerang kaum muslimin. Toleransi sudah disalahartikan bahkan terkadang terkesan toleransi yang kebablasan. Toleransi sudah salah diartikan.


Berdasarkan Wikipedia, toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare” , toleransi berarti sabar atau menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar-kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau lingkup lain.

Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain. (Wikipedia) Jadi, toleransi merupakan suatu sikap saling menghormati ajaran agama lain, bukan mengikuti ajaran agama lain.

Berbeda makna toleransi dalam Islam. Islam menyebut toleransi dengan tasamuh. Tasamuh memiliki tasahul (kemudahan). Artinya Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang diyakini sesuai dengan ajaran masing-masing.

Indonesia sangat toleransi terhadap agama lain. Hal ini terlihat dari sikap berlebihan dari kaum muslimin yang terkadang sama-sama merayakan hari raya agama lain. Bahkan menggunakan atribut atau simbol agama lain serta tidak sungkan ketika memasuki rumah ibadah mereka. Ini dipandang sesuatu yang biasa saja. Hal ini terlihat jelas, saat perayaan hari natal. Pusat pembelanjaan banyak dihiasi berbagai pernak-pernik Natal, bahkan karyawan-karyawan diperintahkan untuk memakai simbol-simbol agama kristen. Bahkan jika kaum muslimin tidak mengucapkan selamat hari raya, tidak memakai simbol-simbol agama mereka, ini dianggap tidak toleransi. Inilah yang disebut toleransi yang kebablasan.

Toleransi semacam ini mengarah kepada upaya untuk menumbuhsuburkan pluralisme di Indonesia. Menganggap bahwa semua agama itu benar. Padahal jelas, agama yang benar di sisi Allah Subhanahuwata’ala adalah Islam, sebagaimanan disebutkan didalam ayat Ali-imran: 19 “ Sesungguhnya agama yang di ridhai di sisi Allah Subhanahuwata’ala hanyalah Islam”.

Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi liberalisme agama. Artinya negara memberikan kebebasan dalam urusan beragama bagi warganya. Warga negara bebas memeluk agama sesuai keinginannya bahkan warga negara diberikan kebebasan untuk melakukan ajaran agama lain dengan dalih toleransi.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengkampanyekan liberalisasi agama, serta pluralisme di Indonesia. Hal ini terlihat dari kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa liberalisasi agama, pluralisme agama harus terus digaungkan.

Islam sudah lama mencontohkan toleransi beragama. Hal ini terlihat dari sejarah Islam. Bahwa Islam hidup berdampingan dengan non muslim (kafir dzimmi) dan mereka menjadi warga negara Islam. Islam melarang menyakiti non muslim, sebagaimana hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh An nasa’i dari sahabat Abdullah bin Amr “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.

Didalam Al-Qur’an juga terdapat larangan menghina agama selain Islam. Dalam surat Al-An’am:108 “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah,karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…

Islam jelas terkait toleransi, bukanlah justru memberikan toleransi yang kebablasan, serta memberikan seluas-luasnya liberalisasi agama dan pluralisme agama. Sebagai muslim harus melakukan berbagai upaya untuk melawan liberalisasi agama pluralisme agama yaitu dengan terus mengkaji serta memahami Islam sebagai ideologi, bukan hanya ritual. Terkait toleransi, maka pahamilah toleransi yang sesungguhnya secara benar. Terus gencarkan dakwah Islam keseluruhan penjuru.

Wallahu alam bishawab

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x