Islam, Solusi Era Disrupsi


Oleh : Aras Almustanirah

PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) massal yang melanda ratusan karyawan PT. Karyadibya Mahardika (KDM) Kabupaten Pasuruan cukup mengejutkan. Apalagi, itu terjadi tak lama setelah akuisisi perusahaan Jepang, Japan Tobacco. Per Senin, 3 Februari 2020, sekitar 800 lebih karyawan di-PHK oleh manajemen perusahaan. Selain poduksi yang menurun, besaran UMK yang dirasa terlalu tinggi disebut-sebut sebagai alasannya. (Wartabromo.com, 04/02/2020)

Hal yang sama juga terjadi pada PT Indosat Tbk, yang mengakui telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 677 karyawannya pada Jumat (14/2). Perusahaan menyebut PHK tersebut merupakan langkah dari upaya transformasi perusahaan untuk bertahan di era disrupsi. (Mediaindonesia.com, 15/02/2020)

Imbasnya ratusan bahkan ribuan orang kehilangan pekerjaan dan bahkan terancam pengangguran karena terjadinya PHK besar-besaran ini. PHK massal sudah diprediksi sebagai dampak era disrupsi dan tren digitalisasi yang akan terjadi.

Sebagaimana pada tahun lalu pernah dituturkan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal “Ancaman PHK Pasti…dalam 3-5 tahun ke depan akan terjadi PHK 30% dari total karyawan yang ada,” (Cnbcindonesia.com, 11/10/2019)

PHK terjadi karena menjadi dampak dari era disrupsi yang saat ini sedang berlaku. Disrupsi merupakan munculnya sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi menyebabkan perubahan kebutuhan dengan cara menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang akan menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Karena inilah dominan para buruh kehilangan peran di perusahaan hingga berakhir pada hilangnya pekerjaan.

PHK memang tak dapat dihindari, namun semestinya pemerintah harus bertindak lebih antisipatif terhadap hal ini. Karena bagaimanapun negara telah memutuskan untuk ikut serta mengadopsi tren globalisasi yang memuat seperangkat dampak positif dan negatifnya.

Melemahnya kedaulatan politik dan ekonomi negara, tambah memperparah kondisi ini. Tampak jelas dari sikap pemerintah yang justru berlepas tangan dan membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Kran investasi asing yang dibuka selebar-lebarnya ternyata tidak menyerap tenaga kerja secara signifikan, tetapi hanya menguntungkan bagi pihak kapitalis semata. Kebijakan yang diberlakukan pun selaras dengan kepentingan mereka dan tidak jauh dari intervensi pihak asing. Sehingga kesejahteraan para buruh & masyarakat yang dicita-citakan, laksana jauh panggang dari api.

Berbagai persoalan bangsa hingga detik ini tak mampu terselesaikan secara totalitas dan lengkap. Karena, penyelesaian masalah yang dilakukan hanya menyentuh perkara cabang, belum mendasar. Padahal semua persoalan di berbagai bidang berpangkal pada penerapan sistem kapitalisme dan sekularisme yang diterapkan.

Berbeda dengan Negara yang menerapkan ideologi Islam, yang memiliki formula komprehensif dalam menyerap tenaga kerja. Di dalam Islam Negara akan memiliki proyek-proyek pengelolaan kepemilikan umum antara lain sumber daya alam yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dan menjalankan strategi terkoordinasi antara sistem pendidikan dengan potensi ekonomi di berbagai area.

Optimalisasi kedaulatan ekonomi dan politik negara dengan sistem Islam memustahilkan rakyatnya tidak sejahtera karena kehilangan pekerjaan. Karena telah menutup semua celah kesengsaraan, melalui penerapan berbagai kebijakan yang bersumber dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Hingga apapun tren zaman yang berlaku, negara mampu menghadapi dan tetap berlaku sebagaimana mestinya yakni sebagai pihak yang meri’ayah dan melindungi umat.

Rasulullah saw. bersabda:

…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Ahmad).

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan (kekuasaan)nya. (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Hanya Islam yang mampu memberi solusi dalam menghadapi tantangan tren globalisasi berupa era disrupsi saat ini. Dan meniscayakan kesejahteraan atas setiap warganegaranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *