Ulama : Lentara Yang Dirindukan


Penulis Oleh :Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Sejumlah ulama kharismatik di Aceh mengikuti acara Muzakarah Ulama ke- VIII sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,  yang dipusatkan  di Dayah Bustanul Huda atau dayah Abu Paya Pasi,  Kecamatan Julok, kabupaten Aceh Timur,  Minggu (09/02/2020). Peserta muzakarah kali ini juga dihadiri berbagai jamaah dipelosok Aceh Timur  dan berbagai ormas dan lembaga.

Muzakarah ini turut juga dihadiri oleh Anggota DPD RI H Sudirman (Haji Uma). Sejumlah unsur Forkompimda Aceh Timur, perwakilan OPD, Dan para pejabat dari kabupaten kota lainnya (acehsatu.com 10/2/2020). Anggota DPD RI asal Aceh H Sudirman (Haji Uma) juga berharap hasil dari pada muzakarah ulama nantinya bisa menjadi referensi untuk membuat qanun di Aceh  tentang kemaslahatan umat untuk menjadi rujukan. Patut disyukuri bahwa kini kesadaran kaum muslim untuk kembali kepangkuan Islam, menyelaraskan setiap muamalahnya dengan ketentuan Islam, memahat asa untuk semata-mata meraih Ridha-Nya semakin membaik.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah pernah bersabda bahwa “Di tengah-tengah umat, ulama bagaikan lentera yang bersinar terang, membimbing dan menunjukkan jalan yang benar. Apabila ulama terbenam, maka jalan akan kabur”. Ulama adalah warasah al-anbiyâ’ (pewaris para nabi). Merekalah yang mewarisi tugas para nabi dan rasul dalam menyampaikan dakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Akan tetapi, apabila ulama tenggelam maka yang terjadi adalah kebingungan umat. Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya peran ulama dalam kehidupan kaum muslimin.

Hal ini telah terbukti ketika dahulu banyak imam besar yang bisa berperan besar dan bahkan menjadi rujukan problem solving kehidupan kaum muslimin. Kita tahu Imam Bukhari yang terkenal dengan karyanya yang paling monumental yaitu  kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama shahih Bukhari. Demikian juga dengan Imam Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka yang memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam, dengan karya yang hebat yaitu kitab Ihya Ulumuddin. Dan masih banyak lagi ulama-ulama hebat yang menjadi “lentera kehidupan” bagi kaum muslimin.

Nah, bagaimana dengan ulama saat ini ? kita menyaksikan bahwa peran ulama telah tergerus dan terpinggirkan oleh globalisasi. Kehidupan ulama menjadi eksklusif. Sekularisme telah membonsai peran ulama sebatas pemberian fatwa-fatwa untuk menunjang kepentingan para pemodal dan menopang keberlangsungan sistem ini. Peran ulama terkadang hanya dilibatkan dalam aspek perekonomian dan politik, namun bukan untuk memberikan dan mengajak umat kepada penerapan syariat Allah melainkan sebatas fatwa-fatwa memuluskan agenda penguasa yang ternyata dibaliknya adalah juga agenda asing. Kini peran ulama dijadikan stempel.

Beginilah posisi ulama ditengah gegap gempita sekularisme yang kian mencengkram. Kedudukan ulama demikian menyedihkan, bahkan tak jarang ulama juga dikriminalisasi ketika berseberangan dengan penguasa. Berbeda jauh dengan peran dan kedudukan ulama dalam sistem Islam. Daulah Islam yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para Khalifah kaum muslimin. Daulah Khilafah menempatkan ulama pada kedudukan yang tinggi dan terhormat.

Ulama adalah bintang terang di tengah kegelapan malam. Ulama mampu menampilkan dirinya dalam menjemput gelar yang diberikan Rasulullah SAW yaitu menjadi “lentera” dalam kehidupan kaum muslimin. Berikut 5 peran ulama yang harus dikembalikan ketempat kedudukannya yang tinggi, yaitu :

Pertama, Menjaga kejernihan aqidah kaum muslimin. Sekularisme telah memisahkan kaum muslimin dengan aqidahnya. Dampak langsung dari semua ini adalah kemunduran berpikir umat sehingga umat justru mengambil pemikiran-pemikiran lain yang dianggap tidak bertentangan dengan Islam seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme dan ide-ide turunannya. Maka ulama harus merevitalisasi perannya ditengah-tengah umat dengan menjelaskan secara jernih kerusakan pemikiran – pemikiran itu. Kemudian menyerukan kepada umat untuk kembali kepada pemikiran Islam. Menjadikan Islam sebagai way of life (jalan hidup).

Kedua, Melakukan perang pemikiran. Pemikiran-pemikiran rusak telah mencengkram umat. Musuh kaum muslimin bukan hanya pemikiran ini, akan tetapi kita harus berhadapan dengan putra-putra kaum muslimin yang justru pemikirannya lebih “barat” dari orang-orang Barat sendiri. Khaled Abu al-Fadl, profesor Hukum Islam di UCLA, AS dalam situs JIL pernah menyatakan,  “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Allah.” 

Nurchalis Madjid telah dinobatkan sebagai “Bapak Pluralisme” oleh JIL. Pradana Boy ZTF, salah seorang presidium JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad itu adalah seorang yang liberal. Oleh karena itu salah satu tugas penting Ulama adalah melakukan perang pemikiran (ash-shirâ‘ al-fikri) dalam rangka untuk menyelamatkan kaum muslimin dari gempuran pemikiran-pemikiran yang bisa menghancurkan aqidah kaum muslimin.

Ketiga, Memberikan solusi bagi problematika umat. Islam adalah serangkaian aturan hidup yang berfungsi sebagai solusi terhadap persoalan-persoalan masyarakat.  Solusi-solusi tersebut terangkai dalam suatu sistem hukum. Ulama adalah pihak yang paling kredibel untuk menjelaskan semua itu. 

Persoalan masyarakat dari masalah kebobrokan moral, pengangguran yang kian membengkak,  kemiskinan yang kian tersistematis, kesehatan dan pendidikan yang terus dikomersilkan, korupsi yang kian menggila, dan lain-lain yang kesemuanya itu membutuhkan solusi. Dan sekali lagi hanya Ulamalah yang bisa menjelaskan kepada umat bahwa hanya Islamlah  yang mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara komprehensif.

Keempat, membongkar Konspirasi Penjajah. Saat ini banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih condong kepada kepentingan pemodal. Adanya kebijakan-kebijakan yang kurang mendukung rakyat ini harus diwaspadai. Realitas yang terjadi adalah para penguasa negeri Muslim tunduk terhadap kebijakan-kebijakan negara adidaya. Ini harus dimaknai sebagai sebuah konspirasi. 

Didiktenya berbagai kebijakan ekonomi negara oleh lembaga-lembaga internasional seperti IMF, IDB dan konsorsium moneter lainnya adalah sebuah konspirasi. Dikuasainya aset-aset publik (seperti minyak bumi, gas, air, listrik) dengan diawali perubahan UU yang memberikan kepada asing untuk mengelolanya adalah sebuah konspirasi. Semua peristiwa politik seharusnya disadari oleh para ulama pewaris nabi. Para ulama bahkah wajib menjelaskan semua konspirasi ini kepada umat. Dengan begitu, umat pun menyadari bahayanya.

Kelima, Melakukan kontrol terhadap penguasa. Inilah aktivitas pokok seorang ulama. Di hadapan penguasalah reputasi seorang ulama dipertaruhkan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya),
“Hendaklah kalian menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Hendaklah kalian melarang penguasa berbuat zalim dengan menyatakan kebenaran di hadapannya. Janganlah kalian menutup-nutupi kebenaran itu.  Kalau tidak, nanti Allah akan menaruh rasa dendam di hati kalian dan permusuhan di antara sesama kalian, atau nanti Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Dia mengutuk kaum Bani Israil.” (HR. Imam Malik dan At-Tirmidzi).

Imam Malik bin Anas. Beliau pernah memberikan fatwa bahwa tidak sah perceraian yang dipaksakan. Bagi masyarakat, fatwa ini bagaikan embun yang menyejukkan. 

Namun, berbeda dengan penguasa al-Manshur saat itu. Fatwa ini  menyinggungnya. Lalu al-Manshur memanggil Imam Malik dan meminta kepadanya agar mencabut fatwa tersebut.  Namun, Imam Malik tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Dari sinilah kemudian gerak-gerik Imam  diawasi dan dipersempit sampai ia ditangkap dan dimasukkan di penjara.

Pada akhirnya kita bisa mengetahui bahwa peran ulama sangat penting dan dirindukan oleh kaum muslimin. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa memang betul ulama mempunyai peran penting bagi kaum muslimin dalam kehidupan ini, tetapi bukan berarti peran penting ulama salah dipahami menjadi kepemimpinan ulama terhadap kaum muslimin.

Mengakui pentingnya ulama berarti menjadikan ulama sebagai pihak yang bisa dijadikan rujukan setiap permasalahan karena keilmuannya. Hal ini berbeda dengan ketika kaum muslimin mengakui pentingnya ulama karena figur ulama atau ketokohan ulama itu sendiri.

Pemahaman akan pentingnya peran ulama karena figur ulama sangat berbahaya bagi kaum muslimin, karena nantinya baik buruk suatu perbuatan akan selalu tergantung pada figur ulama tersebut. Padahal baik buruk suatu perbuatan bukan tergantung ulama, akan tetapi tergantung karena aqidahnya. Karena tidak sedikit ulama yang memanfaatkan keilmuannya hanya sekedar memuaskan hawa nafsu mereka, benar adalah menurut kepentingan mereka, salah juga menurut kepentingan mereka.

Rasulullah bersabda :
“Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama” (HR. Ad Darimi).

Semoga kita senantiasa waspada terhadap segala tipu muslihat dari musuh-musuh Allah yang senantiasa mengintai kaum muslimin. Maka penting bagi kita untuk meninggalkan sekulerisme. Lalu beralih kepada Sistem Islam dan mengembalikan kedudukan dan peran strategis ulama ditengah umat. Ulamalah yang akan berada di garda terdepan perjuangan, layaknya Syaikh Aaq Syamsudin mendampingi Muhammad Al Fatih menjemput Kejayaan kaum muslimin menaklukkan Konstantinopel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *